Kelas Belajar Online
  • Masuk / Daftar

Jurnalistik Dasar

Ikuti Kelas Ini Raport
  • Aktifitas
  • Chat
  • Diskusi
  • Materi
  • Jadwal
  • Peserta
  • Tentang
  • Silabus
  • Todo

Tentang Jurnalistik Dasar

Kelas belajar Jurnalistik Dasar : Kelas yang membantu Anda untuk menjadi seorang jurnalis. Kelas ini diampu oleh Mata Elang, seorang jurnalis yang tinggal di Jakarta. Kelas akan... Selengkapnya

Teknik Wawancara

Asep Saefullah 03 Mei 2013 at 19:33

Oleh Satrio Arismunandar

Di bawah ini ada dua bahan untuk latihan menulis berita straight news, dengan format piramida terbalik (inverted pyramid). Silahkan dipergunakan oleh siapa saja yang membutuhkan (mahasiswa jurnalistik, ilmu komunikasi, praktisi Humas, dosen, dan sebagainya, asal menyebutkan blog ini sebagai sumber):

LATIHAN 1:

Anda adalah wartawan sebuah harian ibukota. Suatu pagi, dalam perjalanan menuju kantor, Anda mengalami sejumlah peristiwa, yang kemudian Anda tuliskan sebagai sebuah berita (straight news).

Kejadiannya sebagai berikut:

Senin pagi, 17 Oktober 2010, cuaca agak mendung. Ketika naik bus dari Depok menuju kantor di Palmerah, bus Anda terhambat kemacetan parah di sekitar Lenteng Agung. Karena penasaran, Anda turun dan berjalan ke depan untuk melihat penyebab kemacetan itu. Ternyata penyebabnya adalah sebuah kecelakaan, atau tepatnya insiden tabrak lari.

Seorang gadis cantik, tampaknya mahasiswi, tergeletak di jalan bersimbah darah. Kepalanya tampak memar dan berdarah. Tas dan buku-bukunya bertebaran di jalan. Gadis berambut panjang sebahu itu mengenakan jeans biru dan T-shirt warna merah, bertulisan ”Turunkan SBY! Ganyang Rezim Neoliberal!” Mungkin, gadis ini seorang aktivis mahasiswa yang agak radikal, pikir Anda.

Orang berkerumun di sekitar korban, tetapi mereka tampak gugup. Tidak ada polisi di sekitar situ. Anda pun berinisiatif menolong. Anda pegang pergelangan tangan korban. Ternyata masih berdenyut. Anda setop sebuah taksi Blue Bird, dan minta tolong warga yang berkerumun, untuk membantu menaikkan tubuh gadis itu di jok belakang. Anda minta sopir segera ngebut ke rumah sakit terdekat.

Seorang mahasiswa, tampaknya teman gadis itu, ikut menemani Anda. Belakangan Anda tahu, mahasiswa itu bernama Aswin, sedangkan si korban bernama Nita. Keduanya mahasiswa IISIP, yang mengambil program studi Jurnalistik, angkatan 2008. ”Kami baru mau pergi untuk makan bakso di warung sebelah. Mendadak ada motor yang melaju cepat, dan menyerempet tubuh Nita. Wajah pengendaranya tidak jelas karena tertutup helm, tetapi dia memakai jaket kulit warna coklat berlogo Harley-Davidson,” tutur Aswin. ”Karena kejadiannya cepat, saya juga nggak sempat mencatat plat nomor motornya..”

Sesampai di RS Kasih Bunda, yang terletak dekat Carrefour Pasar Minggu, korban segera dirawat. Dokter Andreas yang menangani korban mengatakan, korban masih mengalami trauma dan harus dirawat di RS. ”Meski cukup banyak kehilangan darah, lukanya tidak parah dan sekarang sudah mulai sadar. Dia akan sembuh. Tetapi, kami masih harus memeriksa lebih lanjut, karena mungkin ada komplikasi lain yang belum terpantau,” ujar Andreas. Anda ingin mewawancarai Nita, tetapi dokter belum mengizinkan dengan alasan kondisi Nita masih butuh istirahat dan ketenangan.

Anda minta Aswin segera menelepon orangtua Nita dan polisi. Orangtua Nita, Darwis Silalahi, yang ternyata anggota DPR-RI dari PDI Perjuangan, menyatakan kaget karena Nita adalah putri satu-satunya dan sangat disayang. Nita punya dua kakak laki-laki yang kini kuliah di Universitas Trisakti dan Universitas Sahid.

Belakangan datang petugas dari Polsek Metro Pasar Minggu, Komisaris Polisi (Kompol) Martono, SH. ”Kami akan menyelidiki siapa pelaku tabrak lari itu,” kata Kompol Martono. Karena sudah ditangani polisi, Anda merasa tenang dan langsung ke kantor untuk menulis berita.

Tugas Anda:

Tulislah sebuah berita dengan format piramida terbalik, berdasarkan data, informasi, dan kejadian (hasil observasi) yang Anda alami tersebut! Jangan lupa beri judul dan lead yang kuat/menarik! Gunakan sebanyak mungkin informasi yang tersedia.

LATIHAN 2:

Latar Belakang:

Windy Sawitri (22 tahun), mahasiswi Jurusan Manajemen FEUI. Anak tunggal, tinggal bersama ibunya di Perumahan Jatiwaringin, Jakarta Timur. Ibunya, Ny. Marlia Hadi, punya bisnis jasaboga. Meski bisnis itu tidak terlalu besar, cukup untuk membiayai ibu dan anak. Ny. Marlia bercerai dari suaminya ketika Windy baru berusia 6 tahun, sehingga Windy seperti kehilangan figur ayah. Ayah Windy menikah dengan perempuan lain yang lebih muda, dan sejak saat itu putus kontak dengan Windy dan ibunya. Menurut teman-temannya, Windy termasuk gadis manis, tetapi agak tertutup. Di kampus FEUI, dia juga tidak terlalu aktif dalam kegiatan mahasiswa.

Herman Sapardi (40 tahun), dosen Windy dan mengajar mata kuliah Manajemen SDM di FEUI. Sudah menikah selama enam tahun, tapi tak punya anak. Istrinya, Rina, bekerja sebagai akuntan di perusahaan asuransi. Menurut sejumlah mahasiswa, cara mengajarnya serius dan bergaya kebapakan. Suka memberi nasehat pada mahasiswa untuk segala hal. Windy sering berkonsultasi tentang berbagai hal padanya di luar jam mengajar.

Kronologi peristiwa:

2 Okt 2010: Windy pamit pada ibunya, Ny. Marlia Hadi, dengan alasan belajar di rumah teman. Mungkin akan pulang agak malam.

3 Okt 2010: Windy belum juga pulang. Ibunya mulai cemas. Ia mencoba menghubungi lewat HP, tetapi HP Windy tak aktif. Ibunya bertanya ke teman-teman Windy yang ia kenal, tetapi semua tak tahu keberadaan Windy.

4 Okt 2010: Ny. Marlia melapor ke polisi tentang hilangnya anaknya. Ia juga menelepon teman-teman Windy, minta dibantu mencari. Tetapi sejak saat itu Windy seperti hilang ditelan bumi.

7 Okt 2010: Seorang gelandangan yang sedang mengorek sampah di sebuah kebun terpencil di daerah Parung, Jawa barat, menemukan sesosok mayat perempuan. Ciri-ciri mayat itu mirip Windy. Pakaian yang dikenakan juga sama. Tetapi dompet dan barang berharga lain tidak ditemukan. Polisi dipanggil, mayat dievakuasi ke RS Bhakti Yudha, Depok, untuk diidentifikasi dan diperiksa sebab kematiannya. Kematian diduga akibat pukulan benda tumpul di tengkuk dan kepala. Ada bekas darah dan luka menganga di kepala.

8 Okt 2010: Ny. Marlia datang ke RS untuk melihat mayat yang ditemukan itu dan meyakini, itu jenazah Windy. Polisi menyelidiki dan segera menangkap Herman, karena diduga terlibat kasus tewasnya Windy.

11 Okt 2010: Jenazah Windy dimakamkan di TPU Rawamangun, diiringi isak tangis ibunda dan teman-temannya. Banyak dosen FEUI dan wartawan menghadiri pemakaman itu.

Pernyataan hasil wawancara:

Ny. Marlia Hadi, ibunda Windy:

”Windy tidak pernah cerita apakah dia punya pacar atau tidak. Setahu saya sih dia belum pernah pacaran sejak jadi mahasiswa. Soal hubungan dengan dosennya, ia juga tak penah cerita. Tetapi Windy itu anak baik dan tidak macam-macam. Saya tidak percaya, jika ada yang bilang dia punya affair dengan dosen dan hal-hal buruk semacam itu. Itu berita ngawur!”

Diana Dewanti, teman kuliah dan sahabat Windy:

”Tampaknya Windy punya hubungan khusus dengan Pak Herman, malah Windy pernah bilang ia jatuh cinta. Kupikir, itu karena Windy haus akan kasih sayang dari seorang ayah, yang tak ia dapatkan sejak kecil. Saya khawatir, hubungan Windy dan Pak Herman sudah terlalu jauh, dan ini di luar sepengetahuan istri Pak Herman.”

Togu Pardamean, SE, MM., staf Humas FEUI:

”Penangkapan terhadap Pak HS tidak membuat proses belajar-mengajar di mata kuliah yang beliau ajar terganggu, karena kami segera mencarikan dosen pengganti sementara. Tolong media menghormati asas praduga tak bersalah, karena Pak HS baru berstatus tersangka, belum diadili dan belum divonis bersalah. Pihak FEUI menghormati proses hukum, jadi kami belum melakukan apa-apa sampai kasus ini terungkap jelas.”

Komisaris Polisi (Kompol) Ahmad Sudirwan, Kasat Reskrim Polres Depok:

”Windy tewas akibat pukulan benda tumpul. Kami menangkap seorang tersangka berinisial HS, dosen di sebuah PTN. Ada saksi mata yang melihat HS berdua bersama korban pada tanggal 2 Oktober, tanggal terakhir dia masih terlihat hidup. Tetapi kami masih memeriksa dan belum bisa memastikan motif pembunuhan itu. Apakah itu pembunuhan terencana atau akibat aksi spontan, juga belum diketahui. Tolong wartawan jangan berspekulasi.”

Dokter Bambang Ekalaya, staf RS Bhakti Yudha:

”Atas permintaan polisi, kami memang memeriksa, apakah ada indikasi serangan bersifat seksual terhadap korban. Tetapi tidak etis bagi kami untuk membeberkan ke media tentang hasil pemeriksaan itu tanpa seizin pihak keluarga. Silahkan tanya ke polisi atau ke keluarga.”

Dadang, gelandangan yang sering beroperasi di wilayah Parung:

”Saya hari Sabtu itu sedang mengorek sampah, terus mencium bau busuk di kebun. Ternyata sumbernya dari gundukan tanah yang sepertinya belum terlalu lama ditimbun. Iseng-iseng saya korek, ternyata menyembul ujung jari mayat. Saya takut dan langsung lapor polisi. Saya tidak mau kena urusan...”

Rina, istri Herman Sapardi:

”Saya tidak mau diwawancarai. Semua media terlalu memojokkan suami saya. Saya yakin, suami saya tidak bersalah!”

Tugas Anda:

Tulislah sebuah berita dengan format piramida terbalik, berdasarkan latar belakang, informasi, kronologi dan hasil wawancara tersebut! Jangan lupa beri judul dan lead yang kuat/menarik! Gunakan sebanyak mungkin informasi yang tersedia.

Selamat bekerja!

NOTESApakah yang dinamakan wawancara itu? Wawancara adalah tanya-jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya tentang suatu hal atau masalah. Wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk keperluan penulisan berita yang disiarkan dalam media massa. Namun wawancara juga dapat dilakukan oleh pihak lain untuk keperluan, misalnya, penelitian atau penerimaan pegawai.

Orang yang mewawancarai dinamakan pewawancara (interviewer) dan orang yang diwawancarai dinamakan pemberi wawancara (interviewee) atau disebut juga responden. Seperti percakapan biasa, wawancara adalah pertukaran informasi, opini, atau pengalaman dari satu orang ke orang lain.

Dalam sebuah percakapan, pengendalian terhadap alur diskusi itu bolak-balik beralih dari satu orang ke orang yang lain. Meskipun demikian, jelas bahwa dalam suatu wawancara si pewawancara adalah yang menyebabkan terjadinya diskusi tersebut dan menentukan arah dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Tujuan Wawancara

Tujuan seorang reporter melakukan wawancara ialah mengumpulkan informasi yang lengkap, akurat, dan fair. Seorang pewawancara yang baik mencari pengungkapan atau wawasan (insight), pikiran atau sudut pandang yang menarik, yang cukup bernilai untuk diketahui. Jadi bukan hal yang sudah secara umum didengar atau diketahui.

Perbedaan penting antara wawancara dengan percakapan biasa adalah wawancara bertujuan pasti: menggali permasalahan yang ingin diketahui untuk disampaikan kepada khalayak pembaca (media cetak), pendengar (radio), atau pemirsa (televisi). Namun berbeda dengan penyidik perkara atau interogator, wartawan tidak memaksa tetapi membujuk orang agar bersedia memberikan keterangan yang diperlukan.

Dalam proses wawancara, si pewawancara atau wartawan bersangkutan benar-benar harus meredam egonya, dan pada saat yang sama harus melakukan pengendalian tersembunyi. Ini adalah sesuatu yang sulit. Pernahkah Anda melihat dalam suatu acara talkshow di televisi, di mana si pewawancara malah bicara lebih banyak dan seolah-olah ingin kelihatan lebih pintar daripada orang yang diwawancarai? Ini adalah contoh yang menunjukkan, si pewawancara gagal meredam ego dan dengan demikian memperkecil peluang bagi orang yang diwawancarai untuk mengungkapkan lebih banyak.

Dalam proses wawancara, si pewawancara memantau semua yang diucapkan oleh dan bahasa tubuh dari orang yang diwawancarai, sambil berusaha menciptakan suasana santai dan tidak-mengancam, yakni suasana yang kondusif bagi berlangsungnya wawancara.

Dalam prakteknya, berbagai pikiran muncul di benak si pewawancara ketika wawancara sedang berlangsung. Seperti: Apa yang harus saya tanyakan lagi? Bagaimana nada bicara orang yang diwawancarai ini? Dari gerak tubuh dan nada suaranya, apakah terlihat ia bicara jujur atau mencoba menyembunyikan sesuatu?

Sifat Wawancara

Seorang pewawancara secara sekaligus melakukan berbagai hal: mendengarkan, mengamati, menyelidiki, menanggapi, dan mencatat. Kadang-kadang ia seperti seorang penginterogasi, kadang-kadang secara tajam ia menyerang dengan menunjukkan kesalahan-kesalahan orang yang diwawancarai, kadang-kadang ia mengklarifikasi, kadang-kadang pula ia seperti pasif atau menjadi pendengar yang baik. Seberapa sukses suatu wawancara tergantung pada kemampuan melakukan kombinasi berbagai keterampilan yang ini secara pas, sesuai dengan tuntutan situasi dan orang yang diwawancarai.

Sifat wawancara bermacam-macam, tergantung dari informasi apa yang diinginkan si pewawancara dan bagaimana situasi serta kondisi yang dihadapi orang yang diwawancarai. Sifat wawancara bisa sangat bervariasi, dari yang biasa-biasa saja sampai yang antagonistik. Dari yang mempertunjukkan luapan perasaan sampai yang bersifat defensif dan menutup diri.

Jika seorang wartawan mewawancarai seorang pejabat pemerintah tentang keberhasilan salah satu programnya, tentu si wartawan akan mendapat tanggapan yang baik dan panjang-lebar. Namun jika si wartawan mencoba mengungkap praktek korupsi yang diduga dilakukan oleh pejabat bersangkutan, tentu si pejabat akan bersikat defensif bahkan tertutup.

Wartawan yang baik harus mengerti bagaimana cara “memegang” orang yang diwawancarai dan menangani situasi. Wartawan harus bisa merasakan, apa yang harus dilakukan pada momen tertentu ketika berlangsung wawancara –kapan ia harus bersikap lembut, kapan harus ngotot atau bersikap keras, kapan harus mendengarkan tanpa komentar, dan kapan harus memancing dengan pertanyaan-pertanyaan tajam.

Persiapan Wawancara

Banyak orang sering meremehkan tahapan awal ini, padahal tanpa persiapan yang baik wawancara tidak akan menghasilkan sesuai harapan. Persiapan teknis, seperti tape recorder untuk merekam wawancara, notes, kamera, dan sebagainya. Wartawan umumnya menggunakan catatan tertulis (notes) dan tidak boleh terlalu tergantung pada alat elektronik. Tapi alat elektronik seperti tape recorder cukup penting untuk mengecek ulang, apabila ada yang terlupa atau ada informasi yang meragukan, sehingga dikhawatirkan bisa salah kutip.

Di Indonesia, banyak kasus di mana pejabat pemerintah mengingkari lagi pernyataan yang diberikan kepada wartawan, sesudah pernyataan yang dimuat media massa itu menimbulkan reaksi keras di masyarakat. Wartawan disalahkan dan dituding “salah kutip,” bahkan diancam akan diperkarakan di pengadilan.

Untuk menghindari risiko ini, banyak gunanya jika wawancara itu direkam dan setiap saat dibutuhkan bisa diputar kembali. Rekaman elektronik memang belum bisa menjadi alat bukti di pengadilan, namun bisa menjadi indikator tentang siapa yang benar dalam kontroversi tuduhan “wartawan salah kutip” tadi.

Selain persiapan teknis, yang harus diingat pertama kali dalam liputan investigasi adalah kita tidak memulai wawancara tentang suatu masalah dari nol. Sebelum mengatur waktu dan tempat pertemuan dengan narasumber untuk wawancara, wartawan sendiri harus jelas tentang beberapa hal:

Persoalan apa yang mau ditanyakan? Apakah persoalan itu menyangkut korupsi yang diduga dilakukan seorang pejabat pemerintah, atau tentang pencemaran lingkungan yang diduga dilakukan sebuah perusahaan pertambangan, si wartawan harus memiliki pemahaman dasar tentang permasalahan tersebut? Bila pemberi wawancara melihat wartawan tidak menguasai permasalahan, ia mungkin enggan memberikan informasi lebih lanjut.

Menentukan Nara Sumber

Setelah wartawan yakin telah menguasai permasalahan, langkah berikutnya adalah menentukan siapa sumber yang akan diwawancarai. Orang dapat bermanfaat sebagai pemberi wawancara karena sejumlah alasan. Pemberi wawancara yang ideal adalah yang memenuhi semua faktor ini. Untuk proyek peliputan yang panjang, faktor-faktor ini menjadi penting:

Kemudahan diakses (accessibility). Apakah wartawan dengan mudah dapat mewawancarai orang ini? Jika tidak mudah dihubungi, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa menghubungi? Apakah wawancara harus dilakukan lewat telepon atau tertulis, ketimbang bertemu muka langsung? Jika narasumber ini bersifat vital bagi peliputan, wartawan harus realistis tentang prospek wawancara ini.

Reliabilitas (reliability). Apakah orang ini bisa dipercaya sebelumnya? Apakah informasi yang diberikan bisa dibuktikan benar oleh sumber-sumber independen lain? Apakah narasumber ini pakar yang betul-betul mengetahui permasalahan? Apa latar belakang kepentingannya sehingga ia bersedia diwawancarai? Wartawan harus hati-hati, karena ia akan terlihat bodoh jika melaporkan isu atau desas-desus yang belum jelas kebenarannya.

Akuntabilitas (accountability). Apakah orang ini secara langsung bertanggungjawab atas informasi yang diinginkan wartawan atau atas tindakan-tindakan yang sedang diinvestigasi? Apakah ada sumber lain yang lebih punya otoritas tanggungjawab langsung ketimbang orang ini? Berapa orang sebenarnya yang diwakili oleh seseorang yang menyebut diri sebagai juru bicara?

Dapat-tidaknya dikutip (quotability). Mewawancarai seorang pakar yang fasih dan punya informasi lengkap mungkin dapat mengembangkan tulisan, seperti seorang pejabat publik yang blak-blakan dan suka membuat pernyataan-pernyataan kontroversial. Para tokoh masyarakat atau selebritis biasanya sudah tahu, ucapan macam apa yang suka dikutip wartawan. Sedangkan orang awam biasanya tidak ahli dalam “merekayasa” komentar yang bagus buat dikutip wartawan.

Mengatur Waktu dan Tempat Wawancara

Sesudah jelas materi yang mau ditanyakan dan orang yang akan diwawancarai, ditentukanlah waktu dan tempat untuk wawancara. Wawancara bisa dilakukan di rumah atau kantor nara sumber. Jika di rumah, suasananya akan lebih santai dan informal. Jika di kantor, suasananya akan lebih formal.

Namun seringkali, rumah atau pun kantor bukanlah empat yang pas untuk wawancara investigatif. Jika narasumber akan memberikan informasi yang sifatnya rahasia, maka kemungkinan besar ia tidak ingin diketahui oleh publik atau atasannya telah menyampaikan informasi tersebut kepada pers. Hal itu karena bisa berisiko pada keselamatan dirinya, keluarganya, jabatannya, atau karir politiknya. Maka harus diatur pertemuan di tempat dan waktu tertentu secara khusus.

Pengaturan waktu dan tempat di atas berlangsung dalam kondisi “normal”, artinya nara sumber memang sudah bersedia diwawancarai. Namun ada kalanya narasumber sengaja menghindar, mungkin karena merasa terancam keselamatannya atau ia sendiri mungkin terlibat dalam permasalahan. Dalam kondisi demikian, wartawanlah yang harus aktif melacak lokasi keberadaan narasumber, mengejar, mencegat narasumber tersebut untuk diwawancarai.

Wartawan jangan mudah patah semangat dan jangan mundur menghadapi penolakan, perlakuan tidak ramah, atau sikap dingin dari sumber berita. Perlakuan semacam ini kadang-kadang diberikan oleh seorang pejabat pemerintah kepada wartawan baru.

SM. Ali, mantan Redaktur Pelaksana Bangkok Post yang berasal dari Banglades menyatakan, berdasarkan pengalamannya mewawancarai sejumlah pejabat dan pemimpin nasional di Asia, selalu ada kesempatan pertemuan lain. Banyak pejabat yang pada pertemuan pertama sama sekali tidak komunikatif, tetapi mereka kemudian luar biasa ramahnya pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Narasumber yang Enggan Diwawancarai

Namun ada juga narasumber yang memang betul-betul tidak ingin diwawancarai, walaupun mereka tidak terang-terangan mengatakan “tidak.” Yang mereka lakukan adalah menghindar dengan cara tidak menjawab telepon, atau meminta sekretarisnya untuk mengatakan “Bapak sedang ke luar kantor,” jika ada permintaan wawancara dari wartawan. Sehingga wartawan merasa dipermainkan atau diremehkan.

Jika wartawan menghadapi narasumber yang enggan diwawancarai, padahal sumber itu sangat vital bagi peliputan yang sedang dilakukan, wartawan tersebut punya tiga pilihan: Pertama, menuliskan hasil liputan tanpa wawancara itu. Kedua, menuliskan hasil liputan dengan tambahan keterangan bahwa setelah berusaha dihubungi berulang kali, narasumber tetap tidak menjawab panggilan telepon, pesan fax, atau surat permintaan wawancara. Ketiga, meyakinkan narasumber untuk bersedia diwawancarai.

Orang yang tak mau diwawancarai mungkin menolak wawancara karena beberapa alasan, seperti:

Waktu

Calon pemberi wawancara, yang mengatakan “Saya tak punya waktu untuk wawancara,” sebenarnya ingin memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan sesuatu yang lain ketimbang diwawancarai oleh wartawan. Mereka memperkirakan lama waktu yang dihabiskan untuk wawancara, dan menghitung manfaat wawancara itu dibandingkan dengan jika waktunya dipakai untuk kepentingan lain.

Rasa bersalah

Orang mungkin tak mau diwawancarai karena takut kelepasan bicara, mengakui telah melakukan suatu kesalahan, atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak ingin mereka ungkapkan.

Kecemasan

Seorang pemalu mungkin takut pada pengalaman diwawancarai. Ketakutan pada sesuatu yang belum dikenal membuat mereka cenderung menolak risiko pengalaman baru diwawancarai.

Perlindungan

Orang mungkin menolak diwawancarai karena ingin melindungi keluarga, teman, atau orang lain yang dicintai, atau orang lain yang diketahui melakukan perbuatan salah. Calon pemberi wawancara mungkin juga takut dikaitkan dengan pernyataan atau komentar yang bisa mempermalukan atau mengecam pihak lain.

Ketidaktahuan

Calon pemberi wawancara bisa jadi menolak wawancara, karena tak mau mengakui bahwa dia tidak tahu apa-apa atau hanya tahu sedikit sekali tentang masalah yang dijadikan fokus wawancara.

 Mempermalukan

.Orang mungkin menolak wawancara karena masalah yang mau dipertanyakan itu membuat dirinya merasa malu, risih, atau dianggap terlalu intim dan pribadi sifatnya.

 Tragedi

Orang yang baru mengalami musibah berat mungkin tidak ingin mengungkapkan masalahnya itu kepada umum. Padahal wartawan dengan tulisannya akan mengubah masalah yang bersifat pribadi itu menjadi konsumsi publik.

Pelaksanaan Wawancara

Pekerajaan pertama yang harus dilakukan oleh seorang jurnalis adalah memberi rasa aman kepada narasumber, agar ia merasa santai, tenang, dan mau terbuka memberi informasi. Wartawan harus memberi keyakinan kepada narasumber bahwa wartawan tersebut dan medianya itu bisa dipercaya, dan mampu menyimpan rahasia (terutama jika narasumber tak ingin identitasnya dimuat di media massa).

Kepercayaan dari pemberi wawancara ini sangat penting. Kalau pewawancara tidak memperoleh kepercayaan dari sumber berita, maka informasi yang ia peroleh tidak akan lebih dari keterangan rutin, ulangan beberapa fakta yang sudah sering dimuat, pernyataan normatif yang sudah tidak perlu diperdebatkan, atau jawaban yang sifatnya mengelak belaka.

Sesudah penciptaan suasana kondusif itu, dimulailah wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan pembuka. Pertanyaan pembuka ini sifatnya masih memberi rasa aman dan kepercayaan pada narasumber. Pertanyaan inti dan tajam, yang berisiko merusak suasana wawancara, harus disimpan dan baru dilontarkan pada momen yang tepat. Dari tanya-jawab awal, wartawan sudah bisa meraba bagaimana kondisi mental dan emosional narasumber, sehingga wartawan bisa memilih momen yang tepat untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci tersebut.

Pewawancara mengikuti arah pertanyaannya sampai yakin tidak ada yang dapat digali lagi. Selama wawancara, pertanyaan sebaiknya disusun dalam kalimat-kalimat yang pendek dan cermat. Hindarkan pertanyaan yang tidak langsung berhubungan dengan masalah yang ingin diinvestigasi, dan jangan bertele-tele.

Untuk meluaskan komentar dan pernyataan dari orang yang diwawancarai, wartawan dapat mengajukan pertanyaan terbuka (open-ended). Sedangkan untuk memperoleh informasi yang spesifik dan rinci tentang sesuatu hal, harus diajukan pertanyaan tertutup (closed-ended).

Pertanyaan terbuka –biasanya pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”—memungkinkan pemberi wawancara berspekulasi, untuk menawarkan opini, pengamatan, atau deskripsi.

Pewawancara yang mengajukan pertanyaan terbuka berarti menawarkan peluang bagi komentar dan arah dari pemberi wawancara. Pertanyaan terbuka itu, misalnya, “Bagaimana pandangan Anda tentang tuduhan bahwa pabrik Anda mencemarkan lingkungan?” atau “Mengapa Anda begitu yakin bahwa pabrik Anda tidak mencemarkan lingkungan?”

Pertanyaan terbuka mengundang tanggapan yang lebih lengkap dari pemberi wawancara, yang bisa memilih seberapa panjang dan bagaimana isi jawabannya. Pertanyaan terbuka ini mengundang kerjasama dan partisipasi dari pemberi wawancara. Pemberi wawancara yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terbuka mungkin juga bersedia memberi informasi lebih jauh dengan sukarela. Jawaban pertanyaan terbuka, selain lebih spekulatif, juga akan mencerminkan kepribadian pemberi wawancara.

Sedangkan pertanyaan tertutup berusaha mengarahkan pemberi wawancara ke jawaban yang spesifik. Misalnya, “Apakah Anda merasa gembira atau sedih dengan terungkapnya kasus kebocoran limbah pabrik ini?” atau “Berapa kali kebocoran tangki penyimpan limbah ini pernah terjadi sebelumnya?” Dengan pertanyaan semacam ini, pewawancara mengisyaratkan sebuah pilihan atau harapan bagi kesimpulan yang bisa dikuantifikasikan (diukur secara numerik).

Pertanyaan tertutup dapat menghemat waktu karena lebih spesifik. Pertanyaan semacam ini biasanya menghasilkan jawaban-jawaban pendek, lebih berjarak dari pemberi wawancara, dan kurang memberi peluang partisipasi. Pertanyaan tertutup berguna untuk memperoleh informasi faktual. Informasi presisi itu merupakan hasil dari pertanyaan yang bisa dikuantifikasikan, yang dapat memberikan angka spesifik atau statistik yang otoritatif dan dapat digunakan dalam penulisan.

Pewawancara, yang membutuhkan anekdot untuk tulisan tentang profil seseorang, akan lebih berhasil jika menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka. Wawancara memang akan berlangsung lebih lama, namun pemberi wawancara akan merasa lebih percaya dan lebih bersedia memberikan anekdot khas dan pengamatannya.

Sedangkan wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan tertutup lebih cocok untuk penulisan berita yang cepat atau untuk situasi di mana wartawan membutuhkan jawaban spesifik pada periode waktu yang singkat. Pewawancara yang baik dapat mengkombinasikan pertanyaan-pertanyaan terbuka dan tertutup, untuk membuat tulisan dengan rincian spesifik, tetapi juga diwarnai oleh anekdot pemberi wawancara.

Sifat Wawancara

Di dalam lingkungan pers internasional dikenal wawancara yang sifatnya berbeda-beda. Antara lain ialah:

On the Record

Nama dan jabatan pemberi wawancara dapat digunakan sebagai sumber, dan keterangannya boleh dikutip langsung serta dimuat di media massa. Ini adalah bentuk wawancara yang terbaik dan paling umum dilakukan di media massa.

Off the Record

Pemberi wawancara tidak dapat digunakan sebagai sumber dan keterangannya sama sekali tidak boleh dimuat di media massa. Jurnalis harus berusaha keras menghindari situasi seperti ini.

Background

Boleh menggunakan kutipan langsung atau menyiarkan keterangan apapun yang diberikan, tetapi tanpa menyebutkan nama dan jabatan pemberi wawancara sebagai sumbernya. Misalnya, digunakan istilah “menurut sumber di departemen/badan...” menurut persyaratan yang disepakati dengan pemberi wawancara. Kadang-kadang disebut juga “not for attribution”.

Deep Background

Informasi bisa dimuat, tetapi tidak boleh menggunakan kutipan langsung atau menyebut nama, jabatan, dan instansi pemberi wawancara.

Reporter harus memberitahu redaktur tentang sifat wawancara yang dilakukannya. Apapun bentuk kesepakatan yang telah dicapai dengan pemberi wawancara, itu harus dihormati dan terwujud dalam pemberitaan. Kalau pemberi wawancara tidak ingin disebut namna dan jabatannya, misalnya, nama dan jabatannya itu tegas tidak boleh dimuat. Redaktur perlu diberitahu karena begitu berita hasil wawancara itu dimuat, tanggung jawab atas isi berita tidak lagi terletak di pundak reporter, tetapi menjadi tanggungjawab institusi media bersangkutan.

Meskipun pemberi wawancara berhak menyembunyikan identitasnya, wartawan sedapat mungkin harus meyakinkan pemberi wawancara agar bersedia disebutkan identitasnya. Sebab, apabila terlalu banyak sumber berita yang tidak jelas identitasnya, kredibilitas wartawan dipertaruhkan. Tingkat kepercayaan pembaca terhadap isi tulisannya juga semakin besar, seolah-olah isi tulisan itu hanya berdasarkan gosip, isu, kabar angin atau bahkan “karangan” wartawan belaka.

Keraguan ini muncul bisa jadi karena adanya praktek pelanggaran kode etik yang dilakukan sejumlah wartawan Indonesia. Misalnya, sejumlah artis mengeluh karena ditulis begini dan begitu, padahal artis ini tidak merasa pernah diwawancarai wartawan bersangkutan. Namun karena posisi artis yang sangat membutuhkan publisitas dan dukungan media massa, para artis ini tidak mau ribut-ribut ke Dewan Pers atau pengadilan mengadukan masalahnya.

Referensi:

Biagi, Shirley (1986). Interviews That Works: A Practical Guide for Journalists. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.

Gil, Generoso J. (1993). Wartawan Asia: Penuntun Mengenai Teknik Membuat Berita. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Pakpahan, Roy (ed.) (1998). Penuntun Program Jurnalistik Terpadu Bagi Kalangan LSM. Jakarta: INPI-Pact-SMPI.

Reddick, Randy, dan Elliot King (1996). Internet untuk Wartawan. Internet untuk Semua Orang. (Penerjemah: Masri Maris). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.: Semua nama dan peristiwa dalam soal latihan ini adalah fiktif, hasil karangan saya belaka, meski dibuat sangat mirip asli. Jadi, mohon maaf, jika ada yang tersinggung karena merasa ada kemiripan dengan tokoh atau peristiwa nyata.



  • Komentar
  • Dilihat oleh

Peserta Yang Sudah Melihat

Nurmawan
26 Des 2014 jam 8:41

jurnalistik dasar

Pengajar Kelas

mataelang
Asep Saefullah
Jakarta

User Online

Materi Jurnalistik Dasar

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Penulisan Berita Langsung Berformat Piramida Terbalik
  • Menjadi Jurnalis

Aktifitas Materi

    mataelang jawab
    Asep Saefullah Menambahkan Materi baru at 03 Mei 2013 19:33

May 2015
MonTueWedThuFriSatSun
    1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Bantu Share

Tweet


×

Login

FACEBOOK LOGIN
TWITTER LOGIN
  • Masuk
  • Daftar

Username/Email

Password

Lupa password ?
×

Selamat Datang

Selamat anda sudah berhasil bergabung di kelas ini. Klik link dibawah ini untuk kembali ke kelas yang anda ikuti anda. kami sangat berterimakasih jika anda membantu membagikan kelas ini ke media sosial yang anda ikuti.

Kembali Ke Kelas

Sedang memuat / Loading...

Mohon tunggu beberapa saat
Loading...
© 2013 KelasKita / Tentang / Fitur / Tos / Blog
V 0.5.1 Dibuat Dengan FOSS
Top