MENGGAMBAR

Para Pelukis Terkenal Indonesia, Seperti Apa Kisah Hidupnya?

Para pelukis terkenal Indonesia ini pasti pernah kamu dengar, dengan karya para maestro yang sangat terkenal membuat menarik untuk menilik kisah hidup mereka. Simak selengkapnya disini.

Seni lukis merupakan cabang dari ilmu seni rupa yang menggunakan kanvas atau permukaan datar sebagai medianya. Sebagai negeri yang kaya akan seni dan budaya, banyak pelukis terkenal di  Indonesia yang menghasilkan karya berkualitas hingga mampu menyihir banyak orang. Beberapa diantaranya bahkan mendapat apresiasi dari kalangan internasional.

Karya lukisan yang dihasilkan para seniman ini tidak main-main. Setiap goresannya menyimpan emosi dan memiliki makna tersendiri. Pada dasarnya setiap pelukis memiliki aliran seni dan karakteristik masing-masing. Namun disanalah letak keistimewaan mereka. 

Salah satu maestro lukis Indonesia yang karyanya mendunia adalah Affandi. Ia dikenal sebagai pelukis dengan aliran romantisme dan ekspresionisme. Selain itu, Affandi juga terkenal sebagai pelukis Indonesia yang paling produktif sepanjang masa dengan menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukisan.  

Mau tahu lebih banyak tentang Affandi dan kisah hidup pelukis terkenal Indonesia lainnya yang karyanya tak lekang oleh zaman? Berikut penjelasannya. 


Affandi Koesoma (1907-1990)

Kehidupan masa kecil Affandi jauh dari dunia lukis. Semasa kecil, ia menghabiskan waktu untuk sekolah dan berhasil mencapai jenjang pendidikan yang cukup tinggi. Setelah lulus sekolah, Affandi memilih bekerja menjadi guru. Selain itu, ia juga pernah bekerja di bioskop sebagai pembuat gambar reklame dan petugas karcis. 

Namun ternyata hal tersebut tak berlangsung lama. Ia pun meninggalkan pekerjaannya dan serius pada dunia lukis yang dicintainya. Affandi dikenal sebagai salah satu pelukis yang “nyeleneh”. Jika pelukis umumnya menggunakan kuas untuk melukis di atas kanvas, Affandi justru menggunakan jarinya langsung. 

Berkat kecintaanya pada seni lukis, ia berhasil melahirkan berbagai karya dan dikenal tidak hanya dalam negeri bahkan di luar negeri. Karya-karyanya bahkan dipamerkan di berbagai negara di benua Asia, Eropa, Amerika hingga Australia. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain Ibuku (1941), Potret Diri & Topeng-topeng Kehidupan (1961), Potret Diri (1981) dan masih banyak lagi. 


Raden Saleh Syarif Bustaman (*1807-1880)

Raden Saleh merupakan keturunan Arab-Jawa dari ayahnya yang bernama Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja dan ibunya Mas Adjeng Zarip Hoesen. Tidak dapat diketahui pasti kapan tahun kelahiran Raden Saleh. Beberapa sumber menulis bahwa ia lahir di Semarang pada 1807 atau 1811. Ada juga sumber lain yang menulis bahwa Raden Saleh lahir pada 1809, 1810, 1814 atau 1815.

Menjadi salah satu pelukis terkenal di Indonesia, ternyata bakat menggambar Raden Saleh sudah terlihat sejak ia kecil. Hidup di masa kolonial Belanda, membuat ia banyak mempelajari seni lukis dari para seniman Eropa. Semasa remaja, ia belajar melukis dengan seniman asal Belgia, Antonie A.J Paijen dan Prancis, J. Th. Bik. Berkat mereka jugalah yang membuka kesempatan Raden Saleh mengembangkan bakat lukisnya hingga ke Eropa. Alhasil, karya-karya yang ia hasilkan beraliran romantisme yang berkembang di Eropa pada awal abad ke-19, berpadu dengan budaya Jawa yang merupakan tanah kelahirannya. 

Setelah kembali menimba ilmu seni lukis di Eropa, Raden Saleh berhasil melahirkan karya yang menjadi inspirasi seni rupa modern di Indonesia. Adapun karya lukisannya yang terkenal diantaranya Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857), Penyerahan Diri Diponegoro (1835), Antara Hidup & Mati (1870), Pemandangan Jawa dengan Harimau yang Mendengarkan Suara Pengembara (1849), Enam Pengendara Kuda Mengejar Rusa (1860), Perburuan Rsa (1846).

Diantara sederet karya lukisannya, yang paling fenomenal dan bernilai fantastis adalah Berburu Banteng II. Lukisan ini kini menjadi koleksi di Istana Kepresidenan Yogyakarta. Diperkirakan lukisan ini memiliki nilai Rp250 miliar. 

Dengan sederet mahakarya yang sudah ia ciptakan, tidak heran namanya sampai sekarang abadi sebagai salah satu maestro lukis terkenal di Indonesia. 

 

Barli Sasmitawinata (1921-2007) 

Semasa hidupnya, ia tidak hanya dikenal sebagai pelukis tapi juga menjadi seorang dosen dan guru. Kecintaannya pada dunia lukis dimulai sejak tahun 1930, dimana ia merupakan bagian dari kelompok pelukis terkenal Indonesia yang bernama “Kelompok Lima Serangkai” yang beranggotakan Affandi, Hendra Gunawan, Sudarso, dan Wahdi.

Ia belajar seni lukis bersama Jos Pluimentz, pelukis asal Belgia yang pada saat itu tinggal di Bandung. Jos mengajarinya teknik melukis realis yang pada saat itu memang sedang tren.

Karier seni Barli bermula saat ia menjadi illustrator di beberapa koran yang terbit di Bandung. Berkat keterampilannya tersebut, ia berhasil melanglangbuana ke berbagai negara untuk mempertajam bakatnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri, ia mendirikan sanggar lukis yang bernama Rangga Gempol di Bandung. Melalui sanggar tersebut, ia berhasil melahirkan para seniman-seniman berbakat di Indonesia.

Semasa hidupnya, beberapa karya Barli yang terkenal diantaranya Pejuang Napitupulu (1946), Gadis Bali & Analisis, dan Di Pasar (2004). Namanya pun berhasil masuk dalam jajaran pelukis terkenal di Indonesia.

Barli menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Advent, Bandung pada usia 86 tahun pada 9 Februari 2007. Ia disemayamkan di tempat peristirahatan terakhirnya di Taman Makam Pahlawan Cikutra.

 

Basuki Abdullah (1915-1993)

Siapa yang tidak kenal dengan salah satu sosok pelukis terkenal Indonesia yang melegenda ini. Bahkan pemerintah Indonesia mengabadikan namanya menjadi nama museum yang menyimpan karya seni ciptaannya, yakni Museum Basuki Abdullah.

Lahir di Surakarta, Basuki Abdullah dikenal sebagai pelukis beraliran realisme dan naturalisme. Darah seninya mengalir deras dari sang ayah, Abdullah Suriosubroto yang merupakan seorang pelukis juga, salah satu tokoh Mooi Indie di Indonesia.

Sama seperti pelukis terkenal Indonesia yang lainnya, ia juga belajar seni lukis di negara-negara yang ada di Eropa. Selama menimba ilmu di sana, ia melahirkan banyak karya lukisan. Setelah menamatkan sekolahnya, pada 1939 hasil karyanya selama di sana dibawa pulang ke Indonesia untuk dipamerkan. 

Kelihaiannya dalam seni lukis membuat ia dipercaya untuk melukis para raja dan kepala negara di dunia. Karyanya juga dipamerkan tidak hanya di Indonesia tapi di Singapura, Italia, Inggris dan beberapa negara lainnya.  

Salah satu lukisannya yang fenomenal adalah lukisan Nyi Roro Kidul pada tahun 1995 yang kini menjadi koleksi di Istana Kepresidenan. Lukisan tersebut menampilkan sosok penguasa Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul dengan mengenakan kemben, rambut terurai panjang dan berparas cantik. Basuki mengaku ia pernah bertemu dengan Nyi Roro Kidul. Dari pertemuan tersebut, ia bahkan membuat 6 lukisan Nyi Roro Kidul.

Selain lukisan Nyi Roro Kidul, karya Basuki Abdullah yang terkenal lainnya diantaranya Gatotkaca dengan Pergiwa dan Pergiwati, Maria Assumpta, Djoko Taro Fadjar, Peperangan Antara Gatotkaca dan Antasena dan Gadis Bertopang Dagu. 

Akhir hidup Sang Mastro ditutup dengan tragis. Ia ditemukan tergeletak tak bernyawa di kediamannya di Cilandak, Jakarta Selatan pada November 1993. Basuki dibunuh oleh sekelompok pencuri yang dalangnya adalah mantan tukang kebunnya yang bernama Wahyudi. Ia dikebumikan di desa Mlati, Sleman, Yogyakarta.

Atas jasa dan pengabdiannya dalam mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, iapun mendapat julukan sebagai Duta Seni Lukis Indonesia.

Ada banyak sekali seniman lukis terkenal di Indonesia yang pengaruhnya amat besar bagi perkembangan seni di Indonesia. Sudah selayaknya kita memberi apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya kepada mereka. Meski mereka sudah tiada, namun karyanya tetap abadi dan bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berkarya.

Suka dengan Artikel ini? Jangan Lupa beri likes dan share ke temanmu

1735
0
Simpan
Share

Komentar

Belum ada komentar

(*) Berkomentarlah secara bijaksana
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.