MENGGAMBAR

Mengenal Lukisan Cat Air, Sejarah dan Teknik Penggunaannya

Kalau kamu suka melukis, pasti tahu dengan yang satu ini. Ya, lukisan cat air merupakan salah satu jenis lukisan yang digemari dan ternyata sudah ada sejak zaman dahulu lho. Yuk kita cari tahu sejarah lukisan cat air dan bagaimana teknik penggunaannya.

Apa Itu Cat Air

Melukis dengan menggunakan cat air bukan hanya kegiatan yang disukai oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Cat air atau yang cukup dikenal dengan sebutan aquarel merupakan medium lukisan yang memakai pigmen dengan campuran pelarut air bersifat transparan. Meski demikian medium permukaan yang digunakan dapat bervariasi, di antaranya kertas, papyrus, kain, kulit, kayu, dan pastinya kanvas. 
 

Umumnya, cat air dipilih karena sifat transparannya. Selain itu, para pelukis cat air juga harus mengetahui medium pengencer air yang disebut Gouache, yang bersifat menutup dan tidak transparan. Hasil lukisan yang dibuat dengan cat air biasanya memiliki sifat yang ekspresif, bisa juga impresif, semuanya bergantung pada teknik melukis yang digunakan.
 

Sejarah Cat Air

Di Eropa, lukisan dengan menggunakan cat air disebut juga lukisan watercolor atau lukisan aquarelle di Prancis. Lukisan cat air yang terkenal biasanya berasal dari China, Korea atau Jepang. Karena di negara-negara tersebut tradisi melukis dengan cat air sudah diterapkan selama ribuan tahun. Namun, meski demikian lukisan cat air juga terdapat di berbagai negara lain seperti Mesir, India, negara-negara di Asia Tenggara dan juga Amerika dan Eropa.


Laman Wikipedia menyebutkan bahwa lukisan cat air sudah ada sekitar tahun 100 M saat penemuan kertas di Tiongkok. Sementara itu, kebiasaan melukis menggunakan cat dengan campuran air telah berlangsung sejak periode manusia gua. Lukisan cat air ditemukan pada dinding gua di Asia, Eropa, Amerika dan Afrika. Lebih lanjut disebutkan bahwa cat air juga dipakai dalam membuat ilustrasi gambar naskah di zaman Mesir Kuno dan abad pertengahan di Eropa. 


Pada abad ke-14 sampai 16, zaman Renaisans, mulai digunakan cat air dalam menciptakan beragam karya seni. Salah satu pelukis terkenal di zaman ini berasal dari Jerman bernama Albrecht Dürer (1471–1528). Dikenal sebagai pelukis tanaman, pemandangan, dan binatang liar dengan menggunakan media cat air. Dürer disebut-sebut sebagai pionir yang pertama memakai medium cat air dalam lukisannya. Tradisi melukis ini dilanjutkan dengan mendirikan sebuah sekolah melukis oleh Hans Bol (1534–1593).


Beralih ke abad 18, ada William Gilpin yang menulis buku perjalanannya dengan menggunakan gambar pedesaan di Inggris. Beraneka lukisan Lembah, gereja, puri, serta sungai dilukisnya dengan apik memakai cat air. Pada abad ini ada juga sederet pelukis  cat air ternama seperti Thomas Gainsborough, Francis Towne, John Robert Cozens, William Pars, Michael Angelo Rooker, Thomas Hearne dan juga John Warwick Smith. Di lain sisi, ada tiga pelukis dari Inggris yang disebut sebagai perintis seniman cat air yaitu Paul Sandby (1730–1809), Joseph Mallord Eilliam Turner (1775–1851) dan Thomas Girtin (1775–1802). Bahkan, karena sangat ahli dalam menggunakan cat air, Paul Sandby dianggap sebagai "Bapak cat air Inggris".
 


Teknik Penggunaan Cat Air

Bahan baku utama dalam pembuatan cat air adalah serbuk warna (dye) atau pigmen halus yang kemudian dicampurkan dengan gum arabic serta gliserin (madu) agar kekentalan dan daya rekat pigmen warna ke permukaan menjadi bertambah.


Lukisan cat air memiliki efek transparan. Di mana teknik transparan ini merupakan salah satu teknik yang cukup sulit bila dibandingkan dengan media lainnya, misalnya cat minyak. Dalam membuat sebuah karya, para pelukis cat air mestilah berkonsentrasi agar tidak melakukan kesalahan. Karena kesalahan saat menyapukan warna dapat berakibat fatal dan hasil lukisan bisa gagal. Sebuah teknik melukis yang disebut teknik allaprima, mengharuskan para pelukis cat air untuk berhati-hati dalam membubuhkan cat air pada mediumnya, karena sekali terkena goresan kuas, tidak bisa ditiban dengan warna yang lain lagi.


Kuas yang digunakan untuk lukisan cat air biasanya adalah jenis kuas lancip dan beberapa kuas lain dengan pilihan bulu kuas yang lebih lembut. Selain kuas, komposisi cat dan air juga harus diperhatikan agar didapatkan warna tertentu yang diinginkan. Dengan mencampur air dalam jumlah yang lebih banyak akan didapat hasil warna yang lebih terang. 


Seperti halnya semua ritual melukis, dibutuhkan kesabaran yang ekstra dalam melakukannya. Untuk mendapatkan gradasi warna sesuai yang diinginkan, teknik umum yang biasanya dipakai adalah dengan melapisi warna sebelumnya jika telah mengering. Bisa juga menggunakan teknik lain yaitu wet-on-wet dengan melapisi warna di atas warna yang belum kering alias masih basah. Dibutuhkan ketelitian tinggi agar menghasilkan lukisan yang maksimal. 


Beberapa kendala yang sering dihadapi saat berurusan dengan cat air adalah, medium yang digunakan bisa menjadi melengkung bahkan robek apabila terlalu banyak memakai air. Selain itu, untuk medium seperti kertas, gesekan kuas yang terlampau banyak bisa menyebabkan kertas menjadi rusak. Untuk kasus kertas yang bergelombang, bisa dilakukan penyetrikaan agar kertas dapat kembali rata.


Mengapa banyak yang menyukai lukisan dengan menggunakan cat air? Karena selain proses pembuatannya menyenangkan, melukis dengan menggunakan cat air memiliki kelebihan yaitu materialnya tidak berbau, mudah untuk dibersihkan dan mengering lebih cepat.


Kalau kamu sudah ahli dalam menggunakan cat air, maka mulai dari ritual pewarnaan sampai menyapukan kuas cat di atas medium, akan menjadi lebih efektif dan efisien. Setiap lukisan, meskipun dibuat oleh pelukis yang sama, tak ada yang benar-benar sama persis. Guratan cat, ketebalan dan komposisi warna serta air yang digunakan mempengaruhi hasil akhir dari karya seni lukis kamu. Selamat melukis!

Suka dengan Artikel ini? Jangan Lupa beri likes dan share ke temanmu

326
0
Simpan
Share

Komentar

Belum ada komentar

(*) Berkomentarlah secara bijaksana
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.