PSIKOLOGI

Cara Mengelola Emosi yang Tepat, Cek di Sini!

Sering kali kita merasakan emosi berlebih saat sesuatu tak berjalan sesuai dengan rencana awal. Tentunya emosi tersebut harus kita kelola dengan baik, agar tidak menjadi hal buruk bagi kita. Cek cara mengelola emosi yang efektif.

Bicara soal cara mengelola emosi, Indonesia rupanya menjadi salah satu negara dengan emosi positif yang tinggi. Dikutip dari dataindonesia.id, Indonesia menjadi negara dengan emosi positif tertinggi kedua di dunia. Skor Indeks Pengalaman Positif-nya pun mencapai sebesar 84 poin. Posisi ini hanya selisih satu angka dari Panama yang mana skor Indeks Pengalaman Positif-nya mencapai 85 poin. 

 

BERBAGAI JENIS EMOSI

Jika pernah menonton film animasi berjudul Inside Out (2015), kamu pasti sudah tak asing lagi dengan berbagai emosi yang dibahas di dalamnya. Senang, sedih, takut, marah dan jijik adalah lima emosi dasar yang ada dalam diri manusia. Dalam film tersebut dijelaskan bagaimana cara mengenali dan memvalidasi emosi diri, terutama cara mengelolanya agar tak berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain di sekitar. 

Ya, sering kali kita merasakan emosi berlebih saat sesuatu tak berjalan sesuai dengan rencana awal. Emosi akan muncul secara instan sebagai bentuk respon dari otak, sehingga kita tak bisa memilihnya. Dilepaskan secara langsung atau dipendam, sebenarnya keduanya akan sama buruknya bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Meski demikian, harus diakui bahwa emosi adalah hal yang manusiawi dan pasti terjadi pada semua orang. 

CARA MENGELOLA EMOSI

Memang betul, tak semua emosi harus dilepaskan atau diekspresikan. Ada baiknya kita berlaku selektif saat mencoba melepas ataupun menahan emosi tersebut. Jika terlalu banyak dipendam, justru akan berakibat buruk ke diri sendiri. Maka dari itu, kita harus bijak menentukan langkah yang paling tepat.

Lalu, bagaimana cara mengelola emosi yang baik dan benar agar tak merugikan diri sendiri maupun orang lain?

 

  1. Meyakini Diri Sendiri Adalah ‘Tuan’ dari Emosi

    Ini adalah hal dasar yang harus ditanamkan dalam diri. Kita harus bisa meyakini bahwa kita adalah ‘tuan’ dari emosi yang ada. Jangan sampai yang terjadi malah sebaliknya.

    Dalam hal ini, kita bisa memprogram sendiri bagaimana respon yang harus ditunjukkan atas suatu peristiwa yang terjadi. Sebagai contoh, kita bisa marah saat ada orang lain yang berteriak keras tanpa sebab yang jelas. Namun disisi lain, akan ada orang lain yang merasa sedih saat mengalami peristiwa serupa.

    Kita adalah ‘tuan’ dari emosi, dan kita mampu mengontrolnya.

     
  2. Memilih Situasi yang Tepat

    Emosi akan terjadi saat ada pemicu yang menyenggol pengalaman emosional sehingga menghasilkan sebuah respon. Pemicunya bisa berkaitan erat dengan keadaan dan perasaan yang sedang dialami. Respon yang dihasilkan pun bisa berbeda-beda, tergantung pada diri sendiri bagaimana ingin mengelolanya.

    Ada kalanya emosi datang disaat yang tak tepat. Meski demikian, kita punya pilihan untuk merasakan emosi tersebut atau tidak. Apalagi jika emosi tersebut bukanlah emosi yang diinginkan, tentu lebih baik jika dengan segera dihindari.

    Misalnya saat sedang berselancar di media sosial. Terkadang kita menemukan konten yang bisa menyulut emosi. Daripada terbawa emosi dan berlanjut melakukan tindakan kurang bermanfaat, ada baiknya langsung menghindar dan tutup media sosial tersebut.

     
  3. Memikirkan Dampak Selanjutnya

    Baru-baru ini Indonesia dihebohkan oleh kasus pembunuhan seorang gadis oleh mantan pacarnya dengan cara yang keji. Tak terima si gadis sudah mendapatkan kekasih baru, sang mantan terbawa emosi hingga dengan tega menghabisi nyawanya. Ini adalah salah satu contoh pelampiasan emosi yang berakibat fatal.

    Emosi memang sering datang tiba-tiba. Saat seperti itu, sering kali kita langsung bertindak sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. Susah memang, tapi ada baiknya langsung pikirkan dampaknya saat emosi terasa akan naik.

    Cobalah berpikir, “Sebentar, ini harus saya pikirkan lagi dengan lebih tenang” sambil menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya memutuskan melakukan tindakan lain. Pikir ulang, apakah jika meluapkan emosi saat itu juga semuanya akan berangsur membaik? Ataukah sebaliknya?

    Jika yang terjadi justru berdampak buruk dan mengganggu kehidupan diri sendiri, ada baiknya emosi yang bermasalah harus segera ditangani bahkan sebisa mungkin dihilangkan.

     
  4. Mengubah Pemikiran Sendiri

    Emosi datangnya dari dalam diri sendiri karena keyakinan yang kita percaya. Itulah mengapa, kita juga lah yang bisa mengubah pemikiran akan emosi tersebut. Mengubah pemikiran sendiri bisa dimulai dari mengubah pikiran negatif ke arah yang lebih baik. Hal ini dilakukan untuk menghindari situasi lain yang tidak diinginkan dan meminimalisir rasa kecewa.

    Contohnya adalah saat gagal dalam suatu proses rekrutmen pekerjaan. Untuk mengurangi kesedihan dan kekecewaan, ada baiknya sejak awal tak berekspektasi terlalu tinggi. Jika benar pada akhirnya gagal, ubah situasi dengan cara tak larut dalam kesedihan dan kekecewaan, serta tak menyalahkan diri sendiri. Ubah pemikiran menjadi, “Mungkin saja nanti saya akan mendapatkan pekerjaan di tempat lain yang lebih baik”.

     
  5. Mengalihkan Perhatian

    Larut dalam emosi yang dirasakan memang tidaklah baik. Dibanding terus terpuruk, coba untuk mengalihkan perhatian pada hal lain.

    Contoh nyatanya adalah saat melihat pencapaian yang didapatkan orang lain. Bisa terjadi saat melihat teman mendapatkan 100 juta pertamanya, atau melihat kisah percintaannya yang berjalan lancar. Hal ini tentu akan memunculkan rasa minder dan iri yang sulit untuk dibendung.

    Jika yang terjadi demikian, sudah seharusnya kita mencoba untuk mengalihkan perhatian pada kegiatan lain yang fokusnya ada pada diri sendiri. Bisa dicoba dari melakukan berbagai kegiatan yang disukai seperti jalan-jalan, makan makanan favorit, atau sekedar tidur seharian. Yang penting emosi terlampiaskan pada sesuatu yang tidak merugikan orang lain. Selain itu, akan muncul rasa untuk lebih menghargai diri sendiri.

     
  6. Mengubah Respon Diri

    Emosi memang tak selalu bisa dikelola dengan baik dan benar. Namun sesungguhnya kita bisa mengendalikan respon diri kita sendiri.

    Misalnya saja saat bersiap melakukan presentasi penting, tapi disaat yang bersamaan kita mengetahui fakta ternyata pasangan sedang berselingkuh. Sudah pasti, emosi langsung berubah menjadi marah dan sedih. Namun, tak mungkin kita melewatkan presentasi penting hanya gara-gara patah hati, bukan?

    Ya, di sinilah kita harus bisa mengubah respon diri. Tarik nafas dalam-dalam, lalu tutup mata sambil tenangkan diri. Pikirkan hal lain yang bisa merubah emosi. Bisa dimulai dari memikirkan betapa bahagianya orang tua saat mengetahui kita berhasil melewati presentasi penting tersebut. Bisa juga sambil memikirkan betapa beruntungnya kita mengetahui fakta pahit tersebut sebelum hubungan berlanjut ke arah yang lebih serius.

     
  7. Mencari Kalimat Penenang

    Cara ini cukup ampuh untuk dilakukan. Pasalnya, siapa lagi yang bisa menenangkan emosi kita jika bukan diri kita sendiri?

    Kalimat penenang dipercaya mampu membuat kita lebih tenang dan kembali fokus pada masalah yang sedang terjadi. Misalnya saat merasa sedih, ucapkan ke diri sendiri, “Aku akan baik-baik saja. Semua akan kembali membaik”. Ucapkan secara berulang sampai diri merasa lebih baik dari sebelumnya.

     
  8. Belajar Memaafkan

    Terakhir, ada baiknya untuk memaafkan segala peristiwa yang terjadi di luar kendali kita. Bukan hanya memaafkan kesalahan orang lain, namun juga harus bisa memaafkan diri sendiri. Hal ini berdampak baik agar kedepannya kita tak menyimpan terlalu banyak dendam dan beban. Dengan demikian, langkah ke depan dipercaya akan terasa lebih ringan.

 

Jika merasa diri sendiri tak bisa mengendalikan emosi, ada baiknya kita meminta bantuan para profesional. Hal ini berguna agar kita bisa melihat sisi lain sebelum akhirnya melakukan tindakan lainnya. Tak hanya itu, bantuan profesional juga berguna agar kita bisa lebih memahami diri sendiri. 

Kalau merasa demikian, kamu bisa melakukan sesi konseling dengan psikolog, psikiater, atau terapis yaa!

Suka dengan Artikel ini? Jangan Lupa beri likes dan share ke temanmu

520
0
Simpan
Share

Komentar

Belum ada komentar

(*) Berkomentarlah secara bijaksana
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.