LAINNYA

Fenomena Quiet Quitting: Bekerja Dengan Seadanya, Kenali Tandanya!

Istilah quiet quitting ramai sekali dibicarakan dan menjadi perdebatan dalam lingkup dunia kerja. Yuk, simak selengkapnya tentang fenomena ini.

Tren quiet quitting ini sangat bertentangan dengan fenomena dunia kerja lainnya, yaitu hustle culture yang dimana fenomena ini memberikan dampak kurang baik bagi mental maupun fisik seorang pekerja.Ketika berbicara tentang quiet quitting ini berkaitan tentang menetapkan batas kehidupan di dunia kerja agar lebih seimbang. Fenomena ini memberikan ruang untuk para pekerja agar tidak terlalu sibuk dalam bekerja dan dapat memikirkan aktivitas yang lainnya.

 

Apa Itu Quiet Quitting?

Pengertian dari tren ini memang tidak sesuai dengan artinya, yang dimana seolah-olah memiliki arti negatif yaitu meninggalkan pekerjaan. Tetapi, bisa dibilang quiet quitting adalah bekerja sesuai dengan atau tanggung jawab dari setiap posisi masing-masing pekerja, sederhananya adalah bekerja dengan seadanya.

 

Beberapa penyebab menjadi faktor munculnya quiet quitting pada seorang pekerja, seperti lingkungan kerja tidak sehat, minimnya apresiasi atau pengakuan, dan beban kerja yang terlalu banyak.

 

Fenomena ini sangat identik dengan pekerja generasi milenial dan gen Z. Para pekerja yang lebih muda biasanya lebih mementingkan dan peduli dengan gaya hidup yang seimbang, hal ini dilakukan karena mereka hanya termotivasi dengan uang. Tujuannya adalah menciptakan work-life balance yang ideal. Pola pikir seperti ini bukan berarti mereka para pekerja ingin berhenti bekerja atau resign, melainkan bekerja sesuai dengan porsinya saja.

 

Sebenarnya bekerja dengan ‘seperlunya’ dapat memberikan dampak yang positif juga, seperti seorang pekerja dapat merasakan kehidupan di luar selain bekerja. Dengan begitu para pekerja tersebut dapat merasakan kualitas hidup yang baik. 

 

Tanda-Tanda Quiet Quitting

Ternyata quiet quitting punya tanda-tanda lho! Untuk Teman MinKi wajib perhatikan tanda-tanda berikut ya, siapa tau orang terdekat atau kamu mempunyai tanda-tanda berikut.

  1. Pulang tepat waktu atau lebih awal.
  2. Bekerja pada saat jam kerja, dan tidak bekerja di luar jam kerja.
  3. Menghindari acara-acara kantor.
  4. Tidak bergairah untuk mengejar karier.
  5. Tidak menghadiri agenda meeting.
  6. Tidak aktif dalam diskusi tim.
  7. Produktivitas kerja menurun.
  8. Tidak memberikan kontribusi kepada tim.
  9. Sibuk menyelesaikan pekerjaan secara individu.

 

Dampak Positif Dan Negatif

Setiap sikap pasti ada dampak positif dan negatifnya, begitu juga dengan sikap quiet quitting ini. Walaupun dinilai buruk bagi sebagian orang, tetapi ada sisi positif yang bisa kita lihat. Diantaranya sebagai berikut.

  1. Memiliki banyak waktu untuk mengeksplor dan mengembangkan diri di luar pekerjaan.
  2. Memiliki waktu untuk bekerja sampingan selain pekerjaan utama.
  3. Memiliki waktu yang banyak untuk bersama dengan keluarga dan teman.
  4. Memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat.

 

Berikut dampak negatif dari quiet quitting:

  1. Rawan pemutusan hubungan kerja (PHK).
  2. Semangat kerja menurun.
  3. Tidak memiliki tujuan karier.
  4. Atasan tidak puas dengan kinerja kamu.
  5. Tidak merasa puas dengan apa yang dikerjakan.

 

Langkah-Langkah Untuk Merespon Quiet Quitting

Setelah mengetahui dampang negatifnya, sekarang waktunya Teman MinKi perhatikan langkah-langkah berikut untuk merespon quiet quitting ini.

1. Melawan budaya kerja yang eksploitatif

Fenomena ini tidak hanya dilakukan oleh gen Z saja, tetapi pada kenyataannya juga dilakukan oleh karyawan yang sudah lama bekerja di tempat itu.

 

2. Memberikan apresiasi dan dukungan

Karyawan yang tidak mendapatkan apresiasi dan dukungan cenderung akan berhenti diam-diam, dan bisa menganut budaya quiet quitting ini. Untuk itu, dari pihak pemberi kerja harus memperhatikan setiap karyawannya.

 

Kesimpulan

Kesimpulannya adalah mencari jalan tengah atau win-win solution antara pekerja dan pemberi kerja, agar terciptanya budaya kerja yang lebih baik. Karyawan yang hebat, selalu membangun budaya kerja yang positif dan suportif. 

Suka dengan Artikel ini? Jangan Lupa beri likes dan share ke temanmu

89
0
Simpan
Share

Komentar

Belum ada komentar

(*) Berkomentarlah secara bijaksana
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.