SEJARAH DAN BUDAYA

Apa Itu Kue Bulan? Kenali Sejarah dan Fakta Unik Di baliknya

Kamu mungkin pernah dengar tentang kue bulan atau mooncake. Salah satu makanan khas dari masyarakat Tionghoa ini memang memiliki daya tarik tersendiri, bukan hanya karena bentuknya yang unik, tetapi juga asal muasal dan fakta perayaannya. Yuk cari tahu!

Apa itu kue bulan

Laman Wikipedia menyebutkan bahwa Kue Bulan (Hanzi: 月餅, pinyin: yuèbǐng) adalah makanan tradisional dari masyarakat Tionghoa yang menjadi salah satu panganan wajib terutama saat merayakan Festival Musim Gugur. Dalam Bahasa Hokkian, kue bulan juga dikenal dengan nama gwee pia atau tiong chiu pia. Sementara pada Bahasa Hakka / Khek, kue bulan disebut ngie̍t-piáng. Kue bulan sesuai tradisinya memang berbentuk bulat, sebuah bentuk yang melambangkan keutuhan, namun seriring bergulirnya waktu, bentuk ini menjadi lebih modern dan variatif. 

Sejarah dan asal muasal kue bulan

Awalnya kue bulan merupakan sesaji dan persembahan untuk para leluhur setiap musim gugur bertepatan dengan waktu panen tiba. Sebagai masyarakat dengan latar belakang agrikultur, musim panen adalah musim yang sangat berharga dan penting, karena itu dirayakan secara khusus. Makanan mungil ini mengalami evolusi, bukan hanya sekadar sebagai sesaji, tetapi juga “must have item” yang seolah wajib ada sebagai buah tangan ataupun hadiah pada perayaan Festival Musim Gugur. Kalender Gregorian menyebutkan biasanya perayaan ini dilangsungkan pada akhir September atau awal Oktober, bertepatan dengan hari ke-15 dari bulan ke-8 lunar. 

Ada banyak cerita menarik yang beredar di masyarakat terkait asal muasal kue bulan ini. Sebuah legenda menyebutkan bahwa kue bulan merupakan kue yang sudah ada sejak Dinasti Ming (1368-1644). Pada dinasti ini, kue bulan dikaitkan dengan kisah pemberontakan Zhu Yuangzhang dalam membela para petani Han melawan pemerintahan Mongol. Namun, sebuah catatan lain menyebutkan bahwa kue bulan sudah ada sejak zaman Dinasti Song (960-1279), jauh sebelum Dinasti Ming berdiri. Selama berabad-abad, kue bulan telah menjadi ikon kue tradisional yang selalu ada tak hanya sebagai persembahan dewa-dewi, tetapi juga sebagai hadiah untuk para tamu kerajaan yang menghadiri festival seperti pada masa pemerintahan Kaisar Dinasti Tang Xizong (873–888).

Kategori kue bulan

Kategori kue bulan dibagi ke dalam 4 kelas yaitu:
Berdasarkan cara pembuatan kue bulan : Guangdong, Beijing, Taiwan, Hongkong, Chaozhou.
Berdasarkan rasa kue bulan : manis, asin, pedas.
Berdasarkan isi kue bulan : kuning telur, tausa (kacang merah), buah-buahan, kacang hijau, es krim.
Berdasarkan bahan kulit kue bulan : tepung gandum, gula dan es.
 

Di Indonesia, pembuatan kue bulan biasanya berasal dari gaya pembuatan Guangdong dan Chaozhou. Tradisi lokal juga turut mempengaruhi kue bulan, di antaranya adalah perubahan penggunaan bahan-bahan, menyesuaikan dengan yang mudah didapatkan seperti daun pandan, kacang kenari dan durian. Inilah yang pada akhirnya membuat banyak bermunculan inovasi dan aneka varian rasa baru bukan hanya rasa asilnya saja. 


Kue bulan yang dijual di pasaran, umumnya bergaya Kanton dengan bentuk bulat, diameter sekitar 4 inci dan tebal 1.5 inci. Bila dilihat lebih detail, biasanya bagian atas kue bulan Kanton terdapat karakter huruf Cina misalnya, "umur panjang" atau "harmoni" atau ada juga yang menyebut nama pabrik pembuatannya. Dari segi isian, biasanya berbentuk pasta padat dari biji bunga teratai, kacang merah manis, atau jujube. Ada juga isi kuning telur asin, varian kacang-kacangan, biji-bijian, potongan buah, dan bahkan ham kering. Di samping kue bulan versi Kanton, masih ada lagi varian kue bulan Chao shan (Teochew), kue bulan "kulit salju" Hong Kong dan juga kue bulan Suzhou. 
 

Fakta unik di balik kue bulan

Ternyata ada beberapa fakta unik yang menyertai kue bulan ini lho. Yuk disimak rangkuman berikut ini.
 

  1. Lebih baik dipotong dan dibagi

    Dalam tradisi Tionghoa, kue bulan yang dimakan langsung secara utuh akan dianggap aneh dan tidak sopan. Cara memakan kue bulan yang dianjurkan adalah dengan dipotong-potong lalu kemudian dibagi-bagi kepada orang lain.

     
  2. Legenda Dewi Keabadian Chang'e

    Menurut cerita yang berkembang, kue bulan merupakan sesaji yang dipersembahkan Hou Yi, sang pemanah legendaris, untuk mengenang isterinya, Dewi Chang’e, yang berubah menjadi sosok abadi karena meminum ramuan keabadian dan naik ke Istana Bulan.

     
  3. Simbol pertemuan dan berkumpul keluarga

    Selain makna religius yang tersemat di baliknya, dalam budaya Tionghoa kue bulan juga merupakan simbol kebahagian karena mewakili momen berkumpulnya keluarga untuk merayakan Festival Musim Gugur bersama-sama. Beralih ke zaman yang lebih modern, pemberian kue bulan sebagai hadiah untuk kolega juga bisa dimaksudkan sebagai salah satu cara untuk mempererat kemitraan dan kerja sama.

     
  4. Instrumen sejarah

    Mari sebut kue bulan sebagai salah satu instrumen sejarah, karena tidak dapat dipungkiri, keberadaannya selama ribuan tahun telah memunculkan beragam cerita dan legenda, di antaranya adalah pada saat pendiri Dinasti Ming menggulingkan Dinasti Yuan Mongolia, kue bulan merupakan alat penyampai pesan demi keberhasilan pemberontakan.

     
  5. Cemilan enak dan sehat

    Berbagai varian isi yang berkembang dalam perjalanan evolusi kue bulan, seringnya berasal dari jenis kacang-kacangan, telur, dan buah-buahan. Isian ini dinilai sebagai isian yang bukan hanya enak tetapi juga sehat. Meski demikian, hindari mengonsumsinya terlalu banyak, karena kandungan gula dan garam di dalam cukup tinggi. Untungnya, dalam beberapa waktu belakangan, sudah banyak diproduksi kue bulan dengan menggunakan bahan-bahan yang lebih sehat.

 

Dengan tampilannya yang menarik, pilihan isi yang cukup beragam serta rasanya yang enak, tentunya sangat menarik untuk dicoba, bukan?

Suka dengan Artikel ini? Jangan Lupa beri likes dan share ke temanmu

136
0
Simpan
Share

Komentar

Belum ada komentar

(*) Berkomentarlah secara bijaksana
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.